Entah sudah purnama keberapa semenjak kepergianmu, aku masih saja berusaha menghapus beberapa kenangan menyakitkan yang pernah terjadi di antara kita. Seandainya kamu tahu, seharusnya aku sudah berhasil membuang semua kenangan buruk tentangmu. Jika saja kamu tidak terus datang di saat aku mulai bisa terbiasa tanpamu. Kamu tentu tahu, bahwa susu Sebelanga bisa rusak hanya karena nila setitik. Kamu terus saja datang ketika aku sungguh terbiasa tanpa kehadiran dirimu. Kamu datang dengan basa basimu yang sudah basi, seperti biasa. Kamu masih saja menganggap ku sebagai bocah ingusan yang bisa diganggu seenaknya. Padahal aku sudah 20 tahun sekarang. Apa usia seperti itu masih pantas dipermainkan dengan permainan basi? Coba kamu renungkan. Usia dengan kepala dua bukan lagi usia di mana kita bisa bersantai-santai. Sudah saatnya kita menata hidup kita. Tolong, jika tujuanmu datang adalah ketidakpastian, ketidakjelasan, lebih baik jangan datang. Jika rindu, pendam saja. Aku juga begitu. Aku ...