Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Tanggung Jawab

 aku ingin membahas tanggung jawab, bukan sebagai pemberi nasehat. tapi sebagai penyampai keluh kesah. aku tau, kita diamanahi tanggung jawab karena dirasa mampu bukan? manusia itu sensitif terhadap berbagai perasaan. saat kita diragukan, jangankan mau meyakinkan orang lain, meyakinkan diri sendiri saja kadang susahnya setengah mati. kalau sedari awal sudah meragukan, bukankah seharusnya tidak mempercayakan tanggungjawab itu? kalau pada akhirnya tanggungjawab yang sudah dilimpahkan, diminta kembali sungguh sebaiknya tidak usah memberi sedari awal. tau nggak betapa patahnya hati orang yang awalnya dipercaya lalu diragukan? tanpa sadar, kamu meruntuhkan kepercayaan dirinya yang bisa saja baru saja dibangun dengan sekuat hati apa pernah kamu tau orang-orang yang memulai membangun kepercayaan dirinya setelah diruntuhkan itu lebih slit daripada orang yang baru membangun kepercayaan diri dari awal? dan jangan pernah menyalahkan orang yang enggan menerima tanggung jawab setelah kepercatya...

Toxic People

seringkali kita menyebut beberapa orang atau bahkan banyak orang sebagai toxic people atau manusia beracun, dalam arti, manusia yang disebut sebagai toxic people adalah orang yang sering membawa pengaruh buruk terhadap kehidupan kita. tidak jarang, kita merasa menjadi korban atas negativ vibes yang dibawa orang tersebut. tapi, pernah nggak kita bertanya pada diri sendiri. apakah kita lebih positif? apakah kita sudah jauh dari kata "toxic people"? jangan-jangan kita adalah salah satu dari toxic people itu? mungkin kita merasa melakukan sesuatu karena self love, padahal yang terjadi self first. kita mengutamakan diri sendiri lebih dari apapun, sampai-sampai segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendah hati kita anggap sebagai toxic? merasa sudah melakukan tindakan yang benar, padahal tindakan kita justru menyakiti orang lain dan kita abai meski menyadari hal itu. waw, tanpa kita sadari, kita bisa menjadi orang yang lebih toxic daripada yang kita labelkan pada orang lain. iy...

Makhluk Pembelajar

 Di setiap perjalanan hidup yang kita lewati, akan selalu ada badai yang menghampiri. Di setiap badai yang datang selalu didampingi oleh hikmah. yang entah hikmah itu langsung kita sadari atau baru kita sadari setelah kita menghadapi badai itu sampai akhir. akan selalu ada orang-orang yang dihadirkan dalam hidup untuk menempa kita. menempa emosi kita menuju stabil, menempa mental kita menuju baja dan seterusnya. kita akan terus belajar dan belajar di sepanjang hidup kita, tidak peduli berapa kepala yang membayangi usia kita. karena sejatinya kita memang makhluk pembelajar. selalu ada dimensi dimana sesuatu yang datang berulang belum tentu menuntut penyelesaian yang sama. karena bisa jadi penyelesaian kita selama ini belum benar, dengan arti sesuatu yang datang berulang merupakan remedi kehidupan kita.

Dear Pengganjjal Pintu...

Teruntuk kamu pengganjal pintu Setidaknya kamu harus tegas terhadap dirumu sendiri, Jika tidak tegas terhadap perasaanmu. Seharusnya kamu sadar diri, Untuk tidak menjadi penghalang seseorang menerima orang baru, pun sekedar tamu. Entah kamu laki-laki maupun perempuan Pengganjal pintu itu menyebalkan, Mau ditutup tidak bisa, Mau dibuka lebar tapi ya percuma Orang-orang yang ingin masuk teris tersandung olehmu Dear pengganjal pintu, Plis tegaslah, jangan menjadi penghalang Tegaslah, agar pemilik pintu bisa mengambil keputusan Antara membuangmu, atau menyimpannya di dalam rumah Tidak enak berada di ambang itu Tidak nyaman berada di antara Ayolaah tegas pada perasaanmu, Jikapun tidak, tegaslah pada dirimu sendiri demi dirimu

Pembelaan

Jujur, ini adalah sebuah pembelaan. Kita pasti pernah dicintai maupun mencintai orang lain begitu dalam. Sampai rela mengorbankan banyak hal. Aku pernah mencintai seseorang begitu dalam, dan dia memilih untuk bersama orang lain. Lalu, di suatu masa aku dicintai begitu dalam oleh seseorang (ini yang kurasakan). Bisa saja orang ini juga sangat dalam ketika mencintai orang lain. Anggaplah begitu. Banyak sekali yang dia korbankan hanya untuk menyenangkan hatiku. Aku tahu, dia bukan orang yang bisa memberiku banyak hal dengan mudah. Dia orang baik, tentu saja. Maka, ketika aku memilih untuk meninggalkannya banyak sekali orang yang mengataiku "bodoh". Karena meninggalkan orang sebaik dia. Tapi sebagai "aku", aku tidak goyah dengan pilihanku. Meski meninggalkan sama sakitnya dengan ditinggalkan. Yang orang-orang lupa ketika berada di posisi orang yang "meninggalkan" adalah mereka tidak tahu alasan mengapa seseorang memilih untuk meninggalkan. Karena mindset ...
Dua tahun terakhir, aku tidak lagi menaiki kendaraan umum untuk pergi ke suatu tempat. Karena, dengan izin Allah aku diberi kemudahan dengan diberi amanah mengendarai si biru untuk kemana-mana. Namun, beberapa waktu lalu si biru saatnya cek up. Nah, karena saat itu aku sedang ada urusan mendesak di kampus, jadi si biru ketinggalan sendiri an selagi di cek up. Dan kuambil besoknya. Dalam perjalanan pulang dari kampus, saat itu gerimis mulai mengguyur kota pahlawan yang berbatasan dengan kota udang. Sebelum turun dari kendaraan umum yang kunaiki, aku sudah menyiapkan uang pecahan pas untuk membayar ongkos satu orang, dan sisanya di kantong tas yang bersebelahan. Hari itu aku juga tidak membawa payung, apalagi jas hujan. Tidak membawa payung karena biasanya membawa jas hujan saat mengendarai si biru, dan tidak mbawa jas hujan karena jas hujannya stay di jok si biru. Namanya manusia, meskipun aku menyukai hujan pasti aku juga tidak ingin basah dalam kondisi tas tanpa mantel. Alias beru...

Empty

Kenapa sih, gampang banget omongan orang  menghancurkan ketulusan? Apa karena hati sekotor itu? Sampai omongan yang menyakitkan hampir menghilangkan ketulusan. Padahal sebelumnya senang melakukan banyak kebaikan. Jadi untuk apa perbuatan baikmu? Apa niat sudah benar? Atau sekedar mencari puji? Sadar, tidak semua bisa dikendalikan diri, Pun ucapan-ucapan yang menyayat hati, Sekalipun dibilang bercanda, Susah untuk tidak tersakiti

Menaklukkan Hati Manusia

sulit sekali untuk mengawali sesuatu, tetapi mengakhiri juga tidak mudah. apalagi mengakhiri dengan baik. seperti kata teman-temanku pada umumnya "tidak ada yang namanya putus baik-baik". begitukah? jadi mengakhiri sesuatu dengan baik-baik itu yang seperti apa? yang bagaimana? rasanya mendengar kata "akhir" berarti selesai. semuanya selesai. entah apapun itu. ketika kita mulai sekolah, kita mungkin tidak mengenal siapapun. baru kemudian berkenalan dengan yang lain. seiring waktu yang kita lalui berjalan, kita mengukir banyak kenangan baik dengan orang maupun barang serta tempat. bagi sebagian orang, mungkin kenangan adalah tempat. oleh karenanya, ketika seseorang memiliki kenangan yang buruk tentang suatu tempat, dia tidak akan berani lagi mengunjungi tempat itu, sebelum ia berdamai dengan kenangannya. bagi sebagian yang lain, kenangan adalah barang. saat mereka memilih mengakhiri sebuah hubungan dan memiliki barang pemberian dari orang yang ingin dilupakan, barang...