Langsung ke konten utama

Tolong

Entah sudah purnama keberapa semenjak kepergianmu, aku masih saja berusaha menghapus beberapa kenangan menyakitkan yang pernah terjadi di antara kita. Seandainya kamu tahu, seharusnya aku sudah berhasil membuang semua kenangan buruk tentangmu. Jika saja kamu tidak terus datang di saat aku mulai bisa terbiasa tanpamu. Kamu tentu tahu, bahwa susu Sebelanga bisa rusak hanya karena nila setitik.
Kamu terus saja datang ketika aku sungguh terbiasa tanpa kehadiran dirimu. Kamu datang dengan basa basimu yang sudah basi, seperti biasa. Kamu masih saja menganggap ku sebagai bocah ingusan yang bisa diganggu seenaknya. Padahal aku sudah 20 tahun sekarang. Apa usia seperti itu masih pantas dipermainkan dengan permainan basi? Coba kamu renungkan. Usia dengan kepala dua bukan lagi usia di mana kita bisa bersantai-santai. Sudah saatnya kita menata hidup kita. Tolong, jika tujuanmu datang adalah ketidakpastian, ketidakjelasan, lebih baik jangan datang. Jika rindu, pendam saja. Aku juga begitu. Aku pernah mengalami kerinduan terhadap dirimu sampai aku tak mengerti lagi, perasaan seperti apa itu. Tapi hingga detik ini aku mampu memendamnya tanpa mengungkapkannya padamu sekalipun. Jadi tolong ingat, kamu telah memilih jalanmu bersamanya. Maka lepaskan aku. Biarkan aku memilih jalanku tanpa bayang-bayang mu di masa lalu. Tolong jangan menghantui. Meskipun begitu, kita tetap teman. Jika butuh bantuan, semampuku akan membantu.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...