Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018
Apakah kita tidak berhak menyembuhkan rasa sakit yang kita rasakan? Apa kita tidak berhak sedikit pun memiliki ruang yang jika orang lain bebas, kita juga memiliki hak itu? Apa salah? Ketidaknyamanan memang sangat menggangu ketentraman hati, tapi labih menyakitkan mana ketidaknyamanan yang dirasakan sesaat dibandingkan sayatan hati yang terus menerus dilakukan, fisik yang lelah, dan emosi yang tidak terkontrol? Apa bisa manusia terus menerus memendam perasaannya seperti balon udara yang terus ditiup?
Malam itu aku meninggalkan ruang rapat kita dengan perasaan campur aduk. Aku begitu muak dengan caramu menyalahkanku dan juga Devisi yang kupimpin, serta aku teramat sangat benci dengan caramu memuji devisinya yang sebenarnya hanya melakukan tugas saat kau ada saja. Dengan perasaan campur aduk itu aku dalam perjalanan pulang, berharap jarak tempuhku sedikit lebih lambat dari biasanya. Karena dengan jarak tempuh lebih lambat aku bisa leluasa menitikkan air mataku yang sejak tadi bergelayut di mata memaksa turun mengaliri pipi. Maksudku, ketika berkendara hanya aku yang tahu jika hujan itu menuruni pipi, menganak sungai. Sebab, siapa peduli di tengah bisingnya kendaraan yang berlalu lalang ada seorang perempuan yang menangis dibalik masker dan kaca helmnya. Namun kenyataannya, waktu yang kutempuh dalam perjalanan itu justru lebih cepat dari biasanya. Bukankah semesta sering begitu? Sering tidak berkonspirasi dengan keinginan kita. Tapi siapa sangka, justru yang diinginkan semesta itulah...

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...

Ketakutan

Matahari tenggelam di kaki langit, adzan Maghrib sebentar lagi berkumandang. "Makmu maeng urung teko? (Ibumu tadi belum datang?)" "Dereng. (Belum)" "Wes dipenging mangkat sek mangkat ae. (Sudah dilarang pergi masih saja pergi.)" "Tindak pundi to pak, mamak? (Pergi kemana pak, ibu?" "Nyang alas nduwur Kono. (Ke hutan atas sana)" Seketika rasa khawatir yang dari tadi tersirat dari wajah bapak menular padaku dan menjalar ke seluruh tubuh. Dulu, sewaktu aku masih kanak-kanak, sewaktu hutan dan sawah kuanggap sebagai taman kanak-kanak ku, ibu pernah dipanggil oleh seseorang dari lahan bude yang terletak di sebelah lahan yang dikerjakan bapak. Ibu menjawab panggilan itu, karena ibu mengira panggilan itu adalah suara bude dan memang sangat-sangat mirip dengan suara bude. Namun ketika pulang, ibu bertanya pada bude tentang panggilan yang terjadi di hutan itu. "Njenengan wau mundut nopo yu? (Anda tadi mengambil apa mbak?)" ...