Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018
Ada banyak sekali cara untuk mengekspresikan perasaan. Tapi dari sekian banyak cara, Eni memilih mengekspresikan perasaannya dengan mendengarkan lagu dan sesekali ikut bernyanyi. Berteriak pada nada tinggi adalah hobinya. Karena pada saat itu ia juga meluapkan emosinya yang tak terbendung. Dalam kuliah psikologi yang pernah dia ikuti dijelaskan bahwa, ketika logika manusia sedang lelah karena banyak sekali emosi dan kemarahan yang tidak diluapkan maka yang sedang menguasai manusia adalah perasaan dan alam bawah sadar. Kurang lebih seperti itu. Mungkin bagiku yang baru beberapa kali mengikuti perkuliahan psikologi, terlalu awam untuk menjelaskan hal-hal semacam itu. Eni adalah manusia introvert yang mencoba menjadi ekstrovert. Tapi dalam transformasinya itu dia mengalami banyak sekali gejolak yang membuatnya nyaris stress. Dari jiwa yang pendiam tiba-tiba menjadi sedikit hiperaktif. Membuat orang-orang disekitar menganggapnya aneh. 

Sekotong Dikhawatirkan

Sekotong. Kata teman-teman, sekotong adalah daerah yang jauh dari Mataram. Ujung dari kabupaten Lombok Barat, dan katanya akan membentuk kabupaten tersendiri. Lautnya berbatasan dengan laut Australia. Menuju daerah itu memang memakan waktu yang lumayan bagi orang-orang yang tidak pernah bepergian jauh. Tapi bagiku, waktu 2 jam adalah waktu yang singkat. Sebab aku sudah mulai terbiasa menempuh jarak yang cukup jauh dengan kisaran waktu 5-7 jam di perjalanan. Yaa bagi anak rantau sepertiku, Surabaya dan Ponorogo memang masih satu provinsi. Tapi tetap saja jarak tempuhnya tidak singkat.  Berkat kebiasaan menempuh jarak yang jauh itu membuatku memiliki pengalaman yang (anggaplah) keren. Awalnya, alasanku pergi ke sekotong adalah menemani teman kelas yang temannya baru saja melangsungkan pernikahan (merarik: bahasa Lombokya). Oh iya, sebelumnya aku berada di Lombok dalam rangka pertukaran mahasiswa. Aku berlima belas. Namun teman-teman yang lain menghadiri acara pernikahan dari teman ...
"aku mencintaimu sa.." siapa yang tidak terkejut jika seorang teman yang belum lama kita kenal mendadak menyatakan perasaannya? Aku bukannya tidak pernah mendapat ungkapan cinta, hanya saja agak aneh rasanya ketika kita tidak benar-benar sering bertemu dengan orang itu namun kekagumannya pada kita begitu mendalam sampai-sampai jatuh cinta. Aku sama seperti wanita pada umumnya, yang luluh ketika diberi perhatian lebih oleh seseorang. Tapi yang membedakan adalah, aku punya prinsip yang ku pegang sejak memasuki bangku sekolah. Entah siapa yang mencekokiku untuk tidak pacaran selama masih bersekolah. Tapi yang jelas aku bersyukur, sangat bersyukur karena dengan begitu aku tidak pernah jatuh cinta teramat dalam. Dulu, ketika aku masih duduk di bangku kelas 4 ada seseorang yang dengan selembar suratnya menyatakan perasaannya. Bayangkan kelas 4 SD, bocah yang masih ingusan seperti itu menyatakan perasaannya dengan selembar surat dan menyelipkan sebuah cincin mainan. Mengingatnya ...