Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018
Ada banyak sekali cara untuk mengekspresikan perasaan. Tapi dari sekian banyak cara, Eni memilih mengekspresikan perasaannya dengan mendengarkan lagu dan sesekali ikut bernyanyi. Berteriak pada nada tinggi adalah hobinya. Karena pada saat itu ia juga meluapkan emosinya yang tak terbendung. Dalam kuliah psikologi yang pernah dia ikuti dijelaskan bahwa, ketika logika manusia sedang lelah karena banyak sekali emosi dan kemarahan yang tidak diluapkan maka yang sedang menguasai manusia adalah perasaan dan alam bawah sadar. Kurang lebih seperti itu. Mungkin bagiku yang baru beberapa kali mengikuti perkuliahan psikologi, terlalu awam untuk menjelaskan hal-hal semacam itu. Eni adalah manusia introvert yang mencoba menjadi ekstrovert. Tapi dalam transformasinya itu dia mengalami banyak sekali gejolak yang membuatnya nyaris stress. Dari jiwa yang pendiam tiba-tiba menjadi sedikit hiperaktif. Membuat orang-orang disekitar menganggapnya aneh. 

Sekotong Dikhawatirkan

Sekotong. Kata teman-teman, sekotong adalah daerah yang jauh dari Mataram. Ujung dari kabupaten Lombok Barat, dan katanya akan membentuk kabupaten tersendiri. Lautnya berbatasan dengan laut Australia. Menuju daerah itu memang memakan waktu yang lumayan bagi orang-orang yang tidak pernah bepergian jauh. Tapi bagiku, waktu 2 jam adalah waktu yang singkat. Sebab aku sudah mulai terbiasa menempuh jarak yang cukup jauh dengan kisaran waktu 5-7 jam di perjalanan. Yaa bagi anak rantau sepertiku, Surabaya dan Ponorogo memang masih satu provinsi. Tapi tetap saja jarak tempuhnya tidak singkat.  Berkat kebiasaan menempuh jarak yang jauh itu membuatku memiliki pengalaman yang (anggaplah) keren. Awalnya, alasanku pergi ke sekotong adalah menemani teman kelas yang temannya baru saja melangsungkan pernikahan (merarik: bahasa Lombokya). Oh iya, sebelumnya aku berada di Lombok dalam rangka pertukaran mahasiswa. Aku berlima belas. Namun teman-teman yang lain menghadiri acara pernikahan dari teman ...
"aku mencintaimu sa.." siapa yang tidak terkejut jika seorang teman yang belum lama kita kenal mendadak menyatakan perasaannya? Aku bukannya tidak pernah mendapat ungkapan cinta, hanya saja agak aneh rasanya ketika kita tidak benar-benar sering bertemu dengan orang itu namun kekagumannya pada kita begitu mendalam sampai-sampai jatuh cinta. Aku sama seperti wanita pada umumnya, yang luluh ketika diberi perhatian lebih oleh seseorang. Tapi yang membedakan adalah, aku punya prinsip yang ku pegang sejak memasuki bangku sekolah. Entah siapa yang mencekokiku untuk tidak pacaran selama masih bersekolah. Tapi yang jelas aku bersyukur, sangat bersyukur karena dengan begitu aku tidak pernah jatuh cinta teramat dalam. Dulu, ketika aku masih duduk di bangku kelas 4 ada seseorang yang dengan selembar suratnya menyatakan perasaannya. Bayangkan kelas 4 SD, bocah yang masih ingusan seperti itu menyatakan perasaannya dengan selembar surat dan menyelipkan sebuah cincin mainan. Mengingatnya ...
"lebih baik menjadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah" Entah dimana aku membacanya, yang pasti aku pernah menuliskannya di dinding kamarku 6 tahun lalu. Saat itu aku merasa kalimat ini memiliki makana yang luar biasa meski aku belum paham apa makna sebenarnya dari kalimat ini. Dulu aku selalu mendengar motivasi dari orang-orang sukses di sekitarku. Dan ternyata memang lebih baik menjadi kepala semut meski semut itu kecil, tidak terlihat dari jauh. Tapi yang namanya kepala tetaplah diatasi dan utama. Sedangkan ekor hanya akan mengikuti kemanapun kepala memerintah meskipun ia berada pada tubuh yang besar sekalipun. Dulu aku juga pernah bermimpi ke suatu tempat yang kubaca di novel "sunset bersama Rosie" yang ditulis oleh Tere Liye. Entah kenapa aku sangat ingin pergi ke Lombok. Dan saat ini aku benar-benar di sini meski sempat merasa takut pasca gempa. Tapi dimanapun berada bumi ini adalah milik Allah yang memiliki kekuasaan. Dari sebuah mimpi mengajarkanku ...
Apakah kita tidak berhak menyembuhkan rasa sakit yang kita rasakan? Apa kita tidak berhak sedikit pun memiliki ruang yang jika orang lain bebas, kita juga memiliki hak itu? Apa salah? Ketidaknyamanan memang sangat menggangu ketentraman hati, tapi labih menyakitkan mana ketidaknyamanan yang dirasakan sesaat dibandingkan sayatan hati yang terus menerus dilakukan, fisik yang lelah, dan emosi yang tidak terkontrol? Apa bisa manusia terus menerus memendam perasaannya seperti balon udara yang terus ditiup?
Malam itu aku meninggalkan ruang rapat kita dengan perasaan campur aduk. Aku begitu muak dengan caramu menyalahkanku dan juga Devisi yang kupimpin, serta aku teramat sangat benci dengan caramu memuji devisinya yang sebenarnya hanya melakukan tugas saat kau ada saja. Dengan perasaan campur aduk itu aku dalam perjalanan pulang, berharap jarak tempuhku sedikit lebih lambat dari biasanya. Karena dengan jarak tempuh lebih lambat aku bisa leluasa menitikkan air mataku yang sejak tadi bergelayut di mata memaksa turun mengaliri pipi. Maksudku, ketika berkendara hanya aku yang tahu jika hujan itu menuruni pipi, menganak sungai. Sebab, siapa peduli di tengah bisingnya kendaraan yang berlalu lalang ada seorang perempuan yang menangis dibalik masker dan kaca helmnya. Namun kenyataannya, waktu yang kutempuh dalam perjalanan itu justru lebih cepat dari biasanya. Bukankah semesta sering begitu? Sering tidak berkonspirasi dengan keinginan kita. Tapi siapa sangka, justru yang diinginkan semesta itulah...

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...

Ketakutan

Matahari tenggelam di kaki langit, adzan Maghrib sebentar lagi berkumandang. "Makmu maeng urung teko? (Ibumu tadi belum datang?)" "Dereng. (Belum)" "Wes dipenging mangkat sek mangkat ae. (Sudah dilarang pergi masih saja pergi.)" "Tindak pundi to pak, mamak? (Pergi kemana pak, ibu?" "Nyang alas nduwur Kono. (Ke hutan atas sana)" Seketika rasa khawatir yang dari tadi tersirat dari wajah bapak menular padaku dan menjalar ke seluruh tubuh. Dulu, sewaktu aku masih kanak-kanak, sewaktu hutan dan sawah kuanggap sebagai taman kanak-kanak ku, ibu pernah dipanggil oleh seseorang dari lahan bude yang terletak di sebelah lahan yang dikerjakan bapak. Ibu menjawab panggilan itu, karena ibu mengira panggilan itu adalah suara bude dan memang sangat-sangat mirip dengan suara bude. Namun ketika pulang, ibu bertanya pada bude tentang panggilan yang terjadi di hutan itu. "Njenengan wau mundut nopo yu? (Anda tadi mengambil apa mbak?)" ...

Obat Rindu

Entah sudah berapa lama aku tidak memikirkannya. Semua perasaan tentangnya seolah hilang tertimbun waktu. Barangkali perasaan itu memang seperti tanaman, ia akan mati jika tidak terus di sirami ataupun dipupuk. Semua perasaan rindu akan hilang dengan sendirinya. Dan kini aku menyadari bahwa cara mengobati rindu bukan sekedar temu. Tapi kita bisa memilih beberapa obat rindu. Ketika kita masih ingin terikat dengan apa yang kita rindukan, maka temu adalah obatnya. Namun, jika kita ingin mengobati rindu itu sampai pada akarnya seperti ketika kita mencabut tanaman, maka biarkan waktu menimbun rindu itu sendiri. Sakit memang, dibandingkan mengobati rindu dengan temu. Sebab, temu hanya akan mengobati rindu sementara seperti obat pereda nyeri yang apabila obat itu berhenti bekerja, sakit akan kembali menyerang dan perlu menambahkan dosis untuk mengonsumsi obat yang sama. Temu juga begitu, ia akan membuat rindu bertambah berkali lipat setelah temu yang pertama dilakukan. Maka obat rind...

Hormat

Hormat? Apakah definisi hormat itu seperti ketika kita sedang melakukan upacara bendera dan mengangkat tangan untuk menghormati sang saka merah putih? Hormat? Apakah menghormati manusia seiring dengan menjunjung tinggi sesuatu yang mutlak? Hormat? Apakah rasa hormat lantas membuat orang yang menghormati menjadi hina? Apakah lantas orang yang dihormati bisa berlaku sekenanya? Kita sering mengatakan hormat, hormat dan hormat Tapi lupa memahami Definisi hormat yang sesungguhnya

Ikhlas

Bapak, ikhlas itu seperti apa? Apa kita harus diam saja ketika dikhianati? Apa kita harus pasrah tanpa melawan ketika ditindas? Apa kita perlu membiarkan orang lain merampas hak-hak kita? Bapak, seperti apa ikhlas itu? Apa kita hanya membiarkan ketika hati kita dilukai? Apa kita tidak boleh menyatakan perasaan kita? Apa kita tidak boleh menyatakan ketidaknyamanan kita? Bapak, ikhlas itu yang bagaimana? Rasanya aku begitu buta tentang ikhlas Setiap permasalahan yang menyangkut kata ikhlas, Rasanya seketika menjadi gelap Bapak, apa sesungguhnya ikhlas itu? Beritahu aku, beritahu aku Agar aku segera mengerti Dan memahami arti ikhlas yang sesungguhnya

Tolong

Entah sudah purnama keberapa semenjak kepergianmu, aku masih saja berusaha menghapus beberapa kenangan menyakitkan yang pernah terjadi di antara kita. Seandainya kamu tahu, seharusnya aku sudah berhasil membuang semua kenangan buruk tentangmu. Jika saja kamu tidak terus datang di saat aku mulai bisa terbiasa tanpamu. Kamu tentu tahu, bahwa susu Sebelanga bisa rusak hanya karena nila setitik. Kamu terus saja datang ketika aku sungguh terbiasa tanpa kehadiran dirimu. Kamu datang dengan basa basimu yang sudah basi, seperti biasa. Kamu masih saja menganggap ku sebagai bocah ingusan yang bisa diganggu seenaknya. Padahal aku sudah 20 tahun sekarang. Apa usia seperti itu masih pantas dipermainkan dengan permainan basi? Coba kamu renungkan. Usia dengan kepala dua bukan lagi usia di mana kita bisa bersantai-santai. Sudah saatnya kita menata hidup kita. Tolong, jika tujuanmu datang adalah ketidakpastian, ketidakjelasan, lebih baik jangan datang. Jika rindu, pendam saja. Aku juga begitu. Aku ...

Berjatuhan

Selamat malam wahai bintang, Apa kabarmu? Rasanya lama sekali tak menyaksikan kerlipmu. Apa kabarmu? Rasanya begitu jauh kau di atas sana. Wahai bintang, Pernahkah kau terfikir untuk turun ke bumi? Iya ke bumi, menemuiku. Sepertinya tidak, ya? Sebab cintamu yang teramat besar pada langit. Wahai bintang, Tak apa jika kau tak turun. Ataupun jika kau tak menampakkan diri. Aku masih akan baik-baik saja. Dan kini, Tak perlu kau mencemaskanku Karena pada dinding kamar aku dapat menyaksikanmu Yang kini mulai jatuh berguguran, Sebab aku tak ingin terus menjagamu tanpa kepastian

Kerinduan Ayah

Di seberang lautan sana, kamu mungkin sedang menikmati makan malam bersama suami tercintamu. Atau menimang cucuku yang belum sempat ku tengok, karena terbatas jarak? Tapi di sini, aku selalu menunggu dering telepon darimu. Tak pernahkah sekali saja kamu merindukan bapakmu ini? Atau orang tua ini telah menjadi sosok yang memalukan untuk kau ingat? Aku sadar, bahwa orang tua ini hanya akan mengganggumu jika menelpon lebih dulu. Tidak apa-apa nak, sibuklah! carilah duniamu. raihlah mimpimu. Mungkin, jasa orang tua ini tidaklah mampu untuk membuatmu kaya ataupun membuatmu pintar. berbahagialah nak, dengan keluarga kecilmu. Satu hal yang harus selalu kamu ingat nak, bahwa orang tua ini akan selalu membuka tangan dengan lebar jika kamu ingin memelukku sekedar melepas penat.  Meskipun orang tua ini tak seberapa berjasa dalam hidupmu, tapi percayalah bahwa orang tua ini akan berusaha menjadi orang pertama yang akan menghapus kesedihanmu. Jaga dirimu baik-baik nak, bila nanti k...

Memulai untuk Mengakhiri atau Mengakhiri untuk Memulai

Bagaimana caramu mempersilahkan seseorang masuk ke rumahmu tanpa kau bukakan pintu, tanpa kau beri celah untuknya? Atau jangan-jangan kau menganggap semua orang adalah jin, yang bisa keluar-masuk tanpa memerlukan pintu? Begitukah? Pantas saja kau begitu mudahnya menjalani sesuatu tanpa memulai, tiba-tiba saja sudah berada diantara sesuatu itu. Jika sesuatu itu ibarat sebuah perlombaan, kau mungkin tidak pernah menginjak garis start . Dan ketahuilah bahwa apa yang tidak pernah dimulai seharusnya tidak pernah dapat diakhiri. Ya. Jadi, meskipun kau berada di sebuah perlombaan dan hampir memenangkan perlombaan itu, tapi  tanpa menginjak garis start, maka kau juga tak dapat menginjak garis finish seberapa inginnya kau. Di dunia ini, segala sesuatu tercipta dengan pasangannya. Seperti ada dan tiada. Datang dan pergi. Siang dan Malam. Jika kau berada diantara sesuatu tanpa memulai, maka kau telah menyalahi apa yang diciptakan untuk dunia. Dan itu tidak seharusnya terjadi. Kau tahu, apa...

Merelakan

Aku tahu, Aku tahu, tidak ada perpisahan Tanpa menggoreskan kesedihan Tidak ada kata pulang Tanpa diiringi kepergian Malam ini menjadi saksi Perpisahan kita hanya terhalang helaian benang Yang sebentar lagi akan terputus Kuharap persaudaraan kita tak pernah putus Malam ini puluhan mata menjadi saksi Bahwa hidup bukan sekedar perjumpaan Melainkan didalamnya ada perpisahan Tak hanya tawa, tapi juga air mata Yang mengiringi setiap jengkal kenangan Bukan hanya merelakan kepergianmu Tapi juga membiarkan sepotong hati ini ikut bersamamu Bahkan yang sebelumnya tak kurelakan untuk siapapun, Malam ini kubiarkan ia ikut bersamamu

Tentang Temanku 1

Namanya Ainiyah, biasa dipanggil Aini. lahir di pulau Madura, tepatnya di kota Pamekasan pada 21 tahun yang lalu. dulu, pertama kali mengenalnya aku menganggap bahwa ia adalah sosok yang perkasa. karena di tempat kami berdua pernah tinggal bersama adalah asrama khusus perempuan. yang apa-apa harus bisa kami kerjakan sendiri, kecuali beberapa hal yang memang dikerjakan oleh laki-laki. waktu itu, ku dapati ia mengangkat galon dengan gagah perkasa. sampai-sampai aku sempat berfikir bahwa dia adalah seorang laki-laki yang menyamar dengan mengenakan pakaian perempuan serta kerudung untuk dapat tinggal di asrama ini, tapi ternyata dia benar-benar perempuan. hingga suatu ketika ia terpeleset di depan kamar mandi yang licin karena lupa dibersihkan oleh petugas piket terjadwal. ia mengalami keretakan di bagian tangan kirinya. usut punya usut ternya tangan kirinya itu juga pernah retak ketika ia masih usia sd. usia-usia sd adalah usia yang penuh dengan rasa ingin tahu, aini tak terkecuali. d...
pernah merasa lelah untuk mengalah? tapi ketika kita lelah mengalah, siapa yang akan mengalah jika bukan kita? bukankah ego hanya akan menghancurkan segalanya? bukankah kemarahan akan menghancurkan persahabatan, persaudaraan dan ikatan lainnya yang sebelumnya menyenangkan? hidup itu selalu berdampingan antara dua sisi. hitam putih, gelap terang, ada tiada, pun kalah dan menang. kita mungkin bisa saja melampiaskan segala kelelahan kita atas sesuatu. kita bisa saja marah, kita boleh saja kecewa. tapi apakah semuanya akan selesai dengan pelampiasan? apakah akan selesai dengan kemarahan? pun belum tentu dapat diselesaikan dengan kekecewaan. kita hidup mengalami kecewa merupakan hal yang wajar. karena bukan kita yang menentukan takdir setiap orang, pun diri kita. dengan kecewa, kita akan lebih menghargai banyak hal. kita mungkin marah dengan kekecawaan, tapi percayalah bahwa kadang apa yang membuat kita kecewa adalah sesuatu yang dapat kita ambil manfaatnya. kita mungkin kecewa, tapi perc...