Langsung ke konten utama

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku.
Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat.
"Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu semuanya."
Namun, ketika aku sedang semangat-semangatnya dan merajuk.
"Mak, nanti uang hasil penjualan singkong yang aku gendong buat aku semua ya." Rajukku
"Loh, dimana-mana yang namanya bekerja itu ya paling banyak separuh dari hasil penjualan. Kan separuhnya dikasihkan ke pemilik singkongnya." Kata mamak
"Yaaah, kan aku udah capek-capek Mak."
"Lagi pula, kamu kan masih dapat uang saku dari mamak." Kata mamak tak mau kalah sambil mengelus kepalaku.
"Iya deh." Kataku mengalah sambil cemberut.
Dulu mamak selalu mengajakku, bahkan meski aku juga harus menggendong beberapa kilo singkong. Tapi kini, semua berbeda. 7 tahun lamanya aku tidak lagi menjadi bagian dari petani cilik yang memanen singkong. 7 tahun lamanya aku tidak pernah menggendong sekilo pun singkong yang dipanen baoak. 7 tahun pula aku tidak pernah singgah ke tempat mamak dan bapak mencari sesuap nasi. Bahkan di tahun ke 8 ini, ketika aku sangat ingin ikut ke tempat ini bapak melarang jika tak kubujuk dengan sekuat hari.
"Jangan ikut, nanti kamu vapek."
"Jangan ikut, di sana banyak nyamuk."
"Jangan ikut, nanti kena getah Pinus." Dan sederet kalimat jangan lainnya. Aku merasa didiskriminasi. Kenapa dulu aku yang mungil dipaksa ikut untuk memanen singkong di hutan Pinus, sementara kini ketika aku sudah beranjak dewasa malah dilarang. Bukankah secara logika aku lebih tangguh? Tapi nyatanya, bapak tidak ingin putrinya yang sudah terbiasa dengan kehidupan kota berkecimpung lagi dengan hutan tempatnya mendapat sesuap nasi.
Batinku sungguh sakit, saat semua larangan itu dilontarkan oleh bapak. Seandainya bapak tidak punya pemikiran yang terbuka, mungkin bapak akan membiarkan putrinya menjadi petani getah, petani singkong yang tidak tahu perkembangan di luar sana. Saat bapak mulai kehilangan kegagahannya, aku masih belum mampu mengukir senyum bahagia di wajahnya.
Mamak pun begitu, saat punggungnya tak.mampu lagi menggendong singkong seberat 50kg, ia masih saja menyuruhku berdiam diri. Hatiku tercabik, ketika harus menyaksikan mamak menggendong berkilo-kilo singkong, sementara aku tak bisa memindahkannya ke gendonganku karena lupa bagaimana melatih tubuhku sekuat mamak.
Wah entahlah.

Komentar