Langsung ke konten utama

Sekotong Dikhawatirkan

Sekotong. Kata teman-teman, sekotong adalah daerah yang jauh dari Mataram. Ujung dari kabupaten Lombok Barat, dan katanya akan membentuk kabupaten tersendiri. Lautnya berbatasan dengan laut Australia. Menuju daerah itu memang memakan waktu yang lumayan bagi orang-orang yang tidak pernah bepergian jauh. Tapi bagiku, waktu 2 jam adalah waktu yang singkat. Sebab aku sudah mulai terbiasa menempuh jarak yang cukup jauh dengan kisaran waktu 5-7 jam di perjalanan. Yaa bagi anak rantau sepertiku, Surabaya dan Ponorogo memang masih satu provinsi. Tapi tetap saja jarak tempuhnya tidak singkat.  Berkat kebiasaan menempuh jarak yang jauh itu membuatku memiliki pengalaman yang (anggaplah) keren.
Awalnya, alasanku pergi ke sekotong adalah menemani teman kelas yang temannya baru saja melangsungkan pernikahan (merarik: bahasa Lombokya). Oh iya, sebelumnya aku berada di Lombok dalam rangka pertukaran mahasiswa. Aku berlima belas. Namun teman-teman yang lain menghadiri acara pernikahan dari teman kelas salah satu dari kami (kami berlimabelas). Kami berlimabelas mendapat tugas dari pihak kampus untuk meliput salah satu kegiatan adat daerah ini. Karena di Mataram sepertinya sudah mulai mengikuti tren, sehingga pernikahan yang berlangsung seperti pernikahan yang berlangsung di kota-kota pada umumnya.
Sedangkan pernikahan yang kuhadiri bersama teman kelasku ini masih tradisional, masih kental dengan adat istiadat. Temannya temanku yang menikah ini adalah pihak perempuan. Di daerah tersebut sebelum pernikahan berlangsung, mempelai laki-laki menculik dahulu mempelai perempuan dengan kurun waktu 3 hari 3 malam. Dalam masa penculikan itu pihak laki-laki memberitahu keluarga pihak perempuan sekaligus menetapkan hari pernikahan. Dalam penculikan itu pihak perempuan hanya boleh dikunjungi oleh keluarga yang perempuan saja. Sehingga saat itu kami (aku dan teman) berkunjung ke rumah pihak laki-laki.
Bagi anak-anak muda seperti kami, tentu saja dalam menempuh suatu perjalanan tidak hanya memiliki satu tujuan. Dikarenakan temanku ini asli sekotong, maka mampirlah kami ke rumahnya. Jalan yang disuguhkan untuk menuju rumah temanku ini sangat indah. Indah sekali sampai-sampai sulit didefinisikan dengan kata-kata. Bagaimana tidak, perjalanannya kurang lebih melewati 2 lembah yang sudah dapat dipastikan bahwa jalannya menanjak dan menurun dengan tajam. Tapi lagi-lagi aku sudah biasa, sebab menuju rumahku juga menempuh jalan yang hampir mirip. Bedanya ketika akan menempuh rumah temanku ini, setelah tanjakan kedua dengan posisi diatas alias dipuncak tanjakan kita disuguhi oleh pemandangan yang sangat-sangat membuat kita mengingat kebesaran sang maha Kuasa. Pencipta langit dan bumi, sungguh. Di tanjakan itu aku melihat gelombang air laut yang terlihat seolah-olah lebih tinggi dari gunung. Dari situ aku semakin meyakini sebuah teori yang menyatakan bahwa bumi bulat (bulat pepat ya). Mata ini seperti dimanjakan. Jangankan melihat langsung, mengenangnya saja membuat mataku kembali segar seolah-olah berada di tempat itu lagi.
Setelah turun dari tanjakan kedua, sampailah kami di rumah temanku. Luar biasa, rumahnya sangat dekat dengan pantai. Hanya berjalan kaki beberapa meter kami sudah berada di tepi laut. Nambung, nama pantainya. Airnya segar, banyak anak kecil yang berenang di pantai itu. Di pantai itu juga banyak warga sekitar yang membudidayakan rumput laut. Karena aku ke sana pasca gempa, tidak terlalu banyak rumput laut yang masih bagus.
Memandangi laut diatas ayunan adalah favoritku. Sayangnya di desa tempatku terlahir jauh dari pantai, sehingga aku benar-benar menikmatinya. Melepas penat, meninggalkan semua hiruk pikuk yang memenuhi pikiranku. Hari itu aku seperti terlepas dari semua beban. Seperti kembali merasakan masa kecil. Bebas. Benar-benar bebas.
Tapi kebebasan itu berbatas waktu. Waktu yang begitu cepat bergulir membuatku harus mengakhiri kebahagiaan sesaat itu. Namun, meskipun sesaat ia tetap membahagiakan ketika dikenang, seperti saat ini. Aku sedang mengenang sambil menulisnya.
Dalam perjalanan pulang, aku seperti tak rela meninggalkan tempat itu. Seperti ada yang membuatku ingin bertahan lebih lama. Tapi lagi-lagi waktu membuatku harus beranjak. Menikmati senja dalam perjalanan membuatku benar-benar merasakan kebahagiaan yang amat mendalam. Aku bahkan terlupa, kapan terakhir kali sebahagia itu.
Hari itu aku terlalu bahagia hingga melupakan ada begitu banyak orang yang mengkhawatirkanku. Ternyata  ada yang memantau kabarku dari status wa yang biasanya aku buat. Tapi hari itu aku tidak membuat satupun status wa. Bahkan teman kos yang sekelas denganku menanyakan keberadaan ku dan temanku di grup kelas. Aku sungguh tidak bermaksud membuat siapapun khawatir. Tapi apa daya, di rumah temanku itu tidak ada jaringan provider apapun. Bahkan provider yang terkenal memiliki jaringan yang luas. Tapi katanya di ayunan tempat ku bermain ada jaringan, hal ini baru ku tahu beberapa hari setelahnya.
Yaah begitulah...
Namun sejauh ini sekotong membuatku ingin kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...