Langsung ke konten utama

Memahami Manusia

Perasaan manusia itu lucu. Aneh. Kadang menyebalkan. Dan manusia sendiri seringkali tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Pada suatu kondisi tertentu, kita mungkin membenci hal-hal yang tidak kita kenali dengan baik, lalu pada lain kesempatan saat kita telah berinteraksi lebih jauh, perasaan itu berubah. Pun ketika kita mencintai sesuatu, saat kita berinteraksi lebih jauh dan ternyata yang kita cintai itu membuat perasaan kita berubah.
Tapi ada juga, perasaan yang masih sama dan tetap sama meski telah dibenturkan dengan berbagai keadaan. Manusia bisa saja menyangkal dengan mulut mereka, dengan ucapan mereka ataupun dari tindakan mereka. Tapi manusia dianugerahi hati. Sehebat apapun manusia bersandiwara dengan kata-kata yang selalu mereka ucapkan, saat hati mereka masih memiliki rasa yang sama dengan rasa yang sebelumnya pernah ada, manusia tidak lagi bisa menyangkal dengan sempurna. Seperti orang yang amnesia, tetapi getaran yang mereka rasakan dalam hati mereka tetap sama. Barangkali orang yang amnesia, lalu bertemu dengan kekasih hatinya, dia akan jatuh cinta (lagi) meski tak mengenali siapa dia di ingatannya yang sebelumnya. Ah rumit sekali. Memahami manusia memang selalu rumit. Sangat rumit bahkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...