Langsung ke konten utama

Supir Angkot Legal


Di suatu senja sepulangku dari latihan ilmu bela diri aku berdiri di depan gerbang sekolah dan menanti sebuah angkutan. Biasanya aku menaiki angkot kuning yang berkode "A" karena angkot berkode ini tidak berhenti di tengah jalan alias menunggu penumpang. banyak sedikitnya penumpang tidak mempengaruhi laju angkot ini. Berbeda halnya dengan angkot kuning tak berkode, angkot yang tak berkode ini kadang tidak akan jalan jika penumpangnya belum penuh. Bahkan pernah suatu ketika aku hendak pergi ke kampus yang biasanya bisa ditempuh hanya dengan satu jam perjalanan, angkot ini menghabiskan waktuku hampir lebih dari dua jam. Beruntungnya aku lagi libur kuliah dan hanya mengikuti rapat rutin. Tapi tetap saja yang namanya terlambat membuatku tak jadi mengikuti rapat rutin dan memilih kembali naik angkot menuju rumah, tapi menaiki angkot yang berbeda dari yang kutumpangi ketika berangkat.
Di senja waktu itu, kebetulan magrib telah usai ditunaikan. Karena angkot berkode biasanya lama datangnya tapi cepat jalannya, aku memilih naik angkot yang tak berkode. Biasanya kalau setelah magrib, supir angkot banyak yang hendak pulang. Arah rumahku ke utara, sedangkan banyak supir angkot yang rumahnya ke arah selatan. Maka pertanyaan wajibku untuk supir angkot adalah,
"Ngaler (ke utara) pak ?"
"Nggeh ngaler."
Maaf, sebelumnya kujelaskan dulu bahwa aku berdiri di depan gerbang SMA, dan aku berkuliah di kampus yang bersebelahan dengan SMA itu. ya bisa disebut sebagai komplek perguruan lah.
"Ngaler e teng pundi (utaranya kemana), mbak?"
"itu loh pak, pertigaan dekatnya rumah makan."
"Iya mbak silahkan masuk." sambil membukakan pintu depan sebelahnya. beberapa menit berjalan, pak supir itu bertanya-tanya padaku.
"Di sana nggak ada sekolah ta mbak kok jauh amat sekolahnya?"
"Ya adalah pak, hehehe"
"Kelas berapa mbak?"
"Kuliah pak, hehe"
Dengan ekspresi yang tidak biasa, aku tahu kalau dia merasa heran dengan jawabanku. tapi memang secara usia aku sudah selayaknya memasuki jenjang perkuliahan. Baiklah, abaikan saja ekspresi yang tidak biasa itu.
"Ambil jurusan apa?"
"PGSD"
"Apa itu?
"Pendidikan Guru Sekolah Dasar"
"Oh, kalau begitu kamu tidak salah langkah."
"Salah langkah gimana pak?"
"Ya di saat semua perempuan bingung mencari obat agar awet muda, kamu memilih jadi gurunya anak-anak. Dulu, waktu pertama kali kita sekolah yang ngajarin siapa? Guru kan? Meskipun kita sudah beranjak dewasa, dan mengunjungi guru lama kita, guru itu masih saja terlihat sama dengan perawakan saat pertama kali kita bertemu dengannya. Betul begitu bu?"
Apa? Baru saja aku dipanggil bu? Padahal tadi dikira masih sekolah loh. Bisa-bisanya yaa.
"Iya pak, hehe."
Langit sedang kelabu hari ini, bahkan bulanpun tertutup awan, hanya menampakkan segaris tipis berbentuk senyuman.
"Nggak apa-apa ya mbak kita sambil ngobrol gini, biar nggak jenuh."
"Iya pak, nggak apa-apa"
"Kalau ngantuk, tidur aja mbak! Saya legal kok, jadi aman. hehehe."
"Iya pak." jawabku sambil tersenyum.
Padahal dalam hati, (duh aku takut deh. Orangnya lucu tapi bikin takut. Apalagi kalau sudah menampakkan ekspresinya.)
"Santai aja mbak, jangan tegang!"
"Iya pak, saya santai kok kayak di pantai. Itu ada rembulannya." Aku menunjuk rembulan yang hanya segaris tipis.
"Cowoknya ada berapa mbak?"
"Ada tiga pak."
Dengan ekspresi yang lagi-lagi tak bisa, dia berkata
"Wow tiga??? Banyak sekali."
"Loh memang, cowok di kelas saya ada tiga pak."
"Yang tanya cowok di kelas kamu itu siapa? Orang aku tanya cowok kamu kok."
Oh, oke mungkin aku yang kurang fokus.
Setelah sama-sama tertawa karena ketidak cocokkan antara pertanyaan dan jawaban, kami sama-sama diam. Hanya diiringi kebisingan lalu lintas yang semakin ramai di malam minggu. Sesekali aku membuka ponsel dan membaca serta membalas pesan yang masuk. Tiba-tiba, dia bertanya lagi.
"Mbaknya nggak punya cowok yaa?"
"Iya pak?" aku memastikan pertanyaannya
"Kelihatan."
"Loh, kok bisa pak?"
"Ya kelihatan pokoknya."
Kenapa ya kok aku merasa seseorang yang nggak punya pacar, alias jomblo itu seperti sebuah aib. Padahal bagiku jomblo adalah sebuah kebanggaan. Adalah sebuah kehormatan, karena mampu bertahan untuk tidak melewati batas yang belum waktunya untuk di terobos.
"Mbaknya kenapa kok nggak punya cowok? Mbaknya kan sudah mahasiswa, jawabannya yang bagus ya!"
Nih orang kayaknya lagi nguji deh, -,-
"Hehehe, kenapa yaa? Mmm, ya karena kalau saya lihat-lihat orang yang punya pacar itu lebih galau dibanding yang nggak punya pacar."
"Tau dari mana? Emang iya gitu?"
"Iya sih, ya berdasarkan curahan hati teman-teman saya."
"Oh, jadi teman-teman kamu suka curhat ke kamu? Terus kamu ngasih solusinya gimana? Hayoo, kamu sudah mahasiswa loh."
Kenapa coba bawa-bawa nama mahasiswa??
"hmm, gimana yaa? Ya kan biasanya temen-temen suka curhat tentang pacarnya yang sukanya selingkuh. Tapi teman saya ini masih aja suka sama pacarnya. Ya saya sih ngasih saran pakek logika."
"Sebenarnya yang kurang pengetahunnya itu yang curhat dan minta saran apa yang ngasih saran?"
"Ya nggak tahu pak."
"Hayoo, sudah mahasiswa loh ya."
"Yang ngasih saran mungkin pak."
"Ya yang minta saranlah. Kan dia tau kalau kamu nggak pernah pacaran, tapi kenapa minta saran ke kamu coba?"
Tapi menurutku sih, ini menurutku yang tak sempat kuutarakan pada supir angkot legal itu. Meskipun seseorang itu tidak pernah pacaran atau setidaknya belum pernah bukan berarti dia tidak punya pengetahuan mengenai pacaran dan hal-hal semacamnya. Lagi pula dalam agama islam juga tidak ada istilah pacaran kok yaa. Kalau kupikir-pikir lagi, jika seandainya aku ingin pacaran rasanya kok ya aku bodoh sekali. Seseorang yang yang sudah tahu bahwa pacaran itu tidak ada di agamanya (khususnya islam) tapi masih dilakukan itu seperti kita sebenarnya sudah tahu bahwa jalan yang berada di ujung sana adalah jurang. Tapi kita masih saja melanjutkan perjalanan itu. Gitu sih pendapatku. Maaf loh yaa, bukan bermaksud menyinggung ataupun membuat siapapun merasa tersinggung. Karena ini sejatinya hanya sebagai motivasi saya secara pribadi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...