Langsung ke konten utama

Tak Lagi Terbiasa

Wahai hati, maafkan aku
Yang membiarkanmu dikuasai oleh perasaan rindu
Rindu pada seseorang yang entah ia tahu atau tidak
Seseorang yang paham arti kerinduan ini atau tidak.

Di tengah gerimis yang menimpa kota ini,
Aku sungguh mengenang semua perasaan rindu ini
Dulu ketika hari tiba pada panggilan dini
Aku masih dibuat gemas oleh ulahnya

Tapi kini, ada berat yang menyapa
Ada segan yang tak terkatakan
Ada canggung yang tak tanggung-tanggung
Ada harap yang menggantung di langit-langit

Wahai hati, maafkan aku
Seharusnya aku tidak membiarkan mu terbuka sejak awal
Seharusnya aku tidak berlebihan menganggap seseorang
Seharusnya aku lebih mampu mengendalikan perasaan

benar kata orang-orang
Bahwa cinta ada karena terbiasa
Tapi, kenapa perasaan itu masih saja membekas?
Sedangkan aku tak lagi terbiasa dengan rada itu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...