Malam itu aku meninggalkan ruang rapat kita dengan perasaan campur aduk. Aku begitu muak dengan caramu menyalahkanku dan juga Devisi yang kupimpin, serta aku teramat sangat benci dengan caramu memuji devisinya yang sebenarnya hanya melakukan tugas saat kau ada saja. Dengan perasaan campur aduk itu aku dalam perjalanan pulang, berharap jarak tempuhku sedikit lebih lambat dari biasanya. Karena dengan jarak tempuh lebih lambat aku bisa leluasa menitikkan air mataku yang sejak tadi bergelayut di mata memaksa turun mengaliri pipi. Maksudku, ketika berkendara hanya aku yang tahu jika hujan itu menuruni pipi, menganak sungai. Sebab, siapa peduli di tengah bisingnya kendaraan yang berlalu lalang ada seorang perempuan yang menangis dibalik masker dan kaca helmnya. Namun kenyataannya, waktu yang kutempuh dalam perjalanan itu justru lebih cepat dari biasanya. Bukankah semesta sering begitu? Sering tidak berkonspirasi dengan keinginan kita. Tapi siapa sangka, justru yang diinginkan semesta itulah yang sebenarnya baik untuk kehidupan kita. Tak terasa rumah semakin dekat, dan aku buru-buru menghapus air mataku berharap tak seorangpun melihatku menangis. Dan kali ini semesta berkonspirasi. Semua orang sudah terlelap, tinggal aku yang ditemani kesunyian malam.
Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...
Komentar