Langsung ke konten utama
Apakah kita tidak berhak menyembuhkan rasa sakit yang kita rasakan?
Apa kita tidak berhak sedikit pun memiliki ruang yang jika orang lain bebas, kita juga memiliki hak itu?
Apa salah?
Ketidaknyamanan memang sangat menggangu ketentraman hati, tapi labih menyakitkan mana ketidaknyamanan yang dirasakan sesaat dibandingkan sayatan hati yang terus menerus dilakukan, fisik yang lelah, dan emosi yang tidak terkontrol?
Apa bisa manusia terus menerus memendam perasaannya seperti balon udara yang terus ditiup?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...