Matahari tenggelam di kaki langit, adzan Maghrib sebentar lagi berkumandang.
"Makmu maeng urung teko? (Ibumu tadi belum datang?)"
"Dereng. (Belum)"
"Wes dipenging mangkat sek mangkat ae. (Sudah dilarang pergi masih saja pergi.)"
"Tindak pundi to pak, mamak? (Pergi kemana pak, ibu?"
"Nyang alas nduwur Kono. (Ke hutan atas sana)"
Seketika rasa khawatir yang dari tadi tersirat dari wajah bapak menular padaku dan menjalar ke seluruh tubuh. Dulu, sewaktu aku masih kanak-kanak, sewaktu hutan dan sawah kuanggap sebagai taman kanak-kanak ku, ibu pernah dipanggil oleh seseorang dari lahan bude yang terletak di sebelah lahan yang dikerjakan bapak. Ibu menjawab panggilan itu, karena ibu mengira panggilan itu adalah suara bude dan memang sangat-sangat mirip dengan suara bude. Namun ketika pulang, ibu bertanya pada bude tentang panggilan yang terjadi di hutan itu.
"Njenengan wau mundut nopo yu? (Anda tadi mengambil apa mbak?)"
"Neng Endi loh? (Emang dimana?)"
"Teng nginggil mriko. (Di "hutan" atas sana.)"
"Lha aku ora Rono. (Lha saya tidak ke sana)"
Dari situ ibu taut siapa yang memanggilnya dengan suara bude. Ibu merasa beruntung hanya bertemu dengan suara meski tanpa rupa.
Dan kali ini aku menghawatirkan jika hal itu kembali terulang. Pasalnya di daerah kami, terutama di hutan-hutan seperti yang biasa kami kunjungi sebagai tempat mencari sesuap nasi adalah tempat yang masih kental dengan hal-hal semacam itu.
Adzan Maghrib berkumandang, ibu membuka pintu dengan nafas tersengal-sengal. Biasanya ibu tidak akan pergi ke hutan selepas ashar, jikapun pergi hanya ke sawah. Tapi hari ini beliau pergi dengan alasan mencari tambahan kunyit untuk dijual besok.
"Tak kiro lali dalan e muleh. (Kukira lupa jalannya pulang.)" Bapak di tengah kekhawatirannya masih saja bercanda.
Ibu masih dengan nafasnya yang tersengal dan meringis seolah ketakutan. Aku mempersilahkannya duduk sambil menyerahkan segelas air putih.
"Makmu maeng urung teko? (Ibumu tadi belum datang?)"
"Dereng. (Belum)"
"Wes dipenging mangkat sek mangkat ae. (Sudah dilarang pergi masih saja pergi.)"
"Tindak pundi to pak, mamak? (Pergi kemana pak, ibu?"
"Nyang alas nduwur Kono. (Ke hutan atas sana)"
Seketika rasa khawatir yang dari tadi tersirat dari wajah bapak menular padaku dan menjalar ke seluruh tubuh. Dulu, sewaktu aku masih kanak-kanak, sewaktu hutan dan sawah kuanggap sebagai taman kanak-kanak ku, ibu pernah dipanggil oleh seseorang dari lahan bude yang terletak di sebelah lahan yang dikerjakan bapak. Ibu menjawab panggilan itu, karena ibu mengira panggilan itu adalah suara bude dan memang sangat-sangat mirip dengan suara bude. Namun ketika pulang, ibu bertanya pada bude tentang panggilan yang terjadi di hutan itu.
"Njenengan wau mundut nopo yu? (Anda tadi mengambil apa mbak?)"
"Neng Endi loh? (Emang dimana?)"
"Teng nginggil mriko. (Di "hutan" atas sana.)"
"Lha aku ora Rono. (Lha saya tidak ke sana)"
Dari situ ibu taut siapa yang memanggilnya dengan suara bude. Ibu merasa beruntung hanya bertemu dengan suara meski tanpa rupa.
Dan kali ini aku menghawatirkan jika hal itu kembali terulang. Pasalnya di daerah kami, terutama di hutan-hutan seperti yang biasa kami kunjungi sebagai tempat mencari sesuap nasi adalah tempat yang masih kental dengan hal-hal semacam itu.
Adzan Maghrib berkumandang, ibu membuka pintu dengan nafas tersengal-sengal. Biasanya ibu tidak akan pergi ke hutan selepas ashar, jikapun pergi hanya ke sawah. Tapi hari ini beliau pergi dengan alasan mencari tambahan kunyit untuk dijual besok.
"Tak kiro lali dalan e muleh. (Kukira lupa jalannya pulang.)" Bapak di tengah kekhawatirannya masih saja bercanda.
Ibu masih dengan nafasnya yang tersengal dan meringis seolah ketakutan. Aku mempersilahkannya duduk sambil menyerahkan segelas air putih.
Komentar