Langsung ke konten utama
Dua tahun terakhir, aku tidak lagi menaiki kendaraan umum untuk pergi ke suatu tempat. Karena, dengan izin Allah aku diberi kemudahan dengan diberi amanah mengendarai si biru untuk kemana-mana.
Namun, beberapa waktu lalu si biru saatnya cek up. Nah, karena saat itu aku sedang ada urusan mendesak di kampus, jadi si biru ketinggalan sendiri an selagi di cek up. Dan kuambil besoknya.
Dalam perjalanan pulang dari kampus, saat itu gerimis mulai mengguyur kota pahlawan yang berbatasan dengan kota udang. Sebelum turun dari kendaraan umum yang kunaiki, aku sudah menyiapkan uang pecahan pas untuk membayar ongkos satu orang, dan sisanya di kantong tas yang bersebelahan.
Hari itu aku juga tidak membawa payung, apalagi jas hujan. Tidak membawa payung karena biasanya membawa jas hujan saat mengendarai si biru, dan tidak mbawa jas hujan karena jas hujannya stay di jok si biru. Namanya manusia, meskipun aku menyukai hujan pasti aku juga tidak ingin basah dalam kondisi tas tanpa mantel. Alias berusaha menyelamatkan barang-barang yang cukup berharga. Jadi, ketika sudah sampai pemberhentian aku hanya mengambil uang yang sudah kusiapkan tanpa memeriksa lagi yang tersebut. Ternyata uang yang kuberikan untuk membayar ingkos tertukar dengan yang seharusnya menjadi kembalian. Dan aku baru menyadari ketika hendak membayar ojek online, dari tempat pemberhentian ke rumah. Dalam hati, aku merituki diri swnsendyang tidak teliti. Yang jelas-jelas merugikan pihak lain. Ya memang, hal tersebut bukan sebuah kesengajaan. Tetapi tetap saja, rasa bersalah menghantui diri ini. Aku ganhabisa berdoa, semoga bapak supir kendaraan yang kunaiki waktu itu diberi kesehatan, kebahagiaan, keikhlasan, rizki yang melimpah, keluarga yang sakinah mawadah warohmah, dan dicukupkan segala kebutuhannya. Terakhir, semoga aku dipertemukan lagi dalam keadaan ingat untuk mengganti uang yang seharusnya kubayarkan. Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...