Aku ingin mengakhiri semuanya. Semuanya tentang kita. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya mengakhiri sesuatu yang tidak pernah kumulai, tidak pernah kamu mulai dan tidak juga kita mulai. Ibaratnya kita masuk ke sebuah ruangan, pastilah kita juga bisa keluar dari ruangan itu. Kalaupun tidak ada pintu keluarnya, setidaknya ada pintu masuk yang jika memang sangat terpaksa bisa kita lalui untuk keluar. Namun masalahnya dengan hubungan kita adalah, kita tidak tahu darimana kita masuk. Tiba-tiba saja kita sudah berada di dalam kisah ini. Menjadi bagian dari cerita masing-masing. Dan tersakiti oleh sikap masing-masing. Takut kehilangan tapi menyadari bahwa tak saling memiliki. Cemburu, padahal tidak ada kalimat yang terlontar untuk melegalisasi sikap cemburu itu. Merasakan rindu yang amat mendalam, tapi tak memiliki sedikit pun hak untuk merindu. Lalu tiba-tiba merayakan kehilangan saat tahu-tahu seseorang yang lain telah merenggut habis rindu yang selalu kamu lontarkan untukku.
Bagiku kamu adalah petani sedangkan aku hanyalah tanah. Bagi sang tanah, apapun yang ditanam tuannya akan diterima. Meski kadang menyakitkan. Tanah hanya mampu menyuarakan dengan menyampaikan isyarat layunya tanaman, ketika tidak ada kecocokan antara tanah dan tanaman yang ditanam sang tuan. Aku pun begitu. Tidak berhak menentukan rasa apa yang kamu miliki untukku. Jika toh pada akhirnya rasamu padaku tidak sama dengan rasa yang kupunya untukmu, aku bisa apa? Aku tidak menganggapmu sebagai binatang ternak yang bisa ku ikat agar kamu tidak pergi. Toh seekor kucing yang terus dikurung malah akan semakin liar. Buat apa memiliki secara fisik, tapi hati dan pikiran mu berkelana entah kemana. Sebab bagiku, mencintai tidak hanya tentang memiliki. Mencintai adalah bagaimana aku bisa bahagia dan kamu bisa bahagia. Dan terakhir prosedur keselamatan adalah menyelamatkan diri sendiri baru orang lain. Jadi aku menganggapnya sama dengan prosedur bahagia. Membahagiakan diri sendiri baru orang lain. Yaah gitu deh..
Bagiku kamu adalah petani sedangkan aku hanyalah tanah. Bagi sang tanah, apapun yang ditanam tuannya akan diterima. Meski kadang menyakitkan. Tanah hanya mampu menyuarakan dengan menyampaikan isyarat layunya tanaman, ketika tidak ada kecocokan antara tanah dan tanaman yang ditanam sang tuan. Aku pun begitu. Tidak berhak menentukan rasa apa yang kamu miliki untukku. Jika toh pada akhirnya rasamu padaku tidak sama dengan rasa yang kupunya untukmu, aku bisa apa? Aku tidak menganggapmu sebagai binatang ternak yang bisa ku ikat agar kamu tidak pergi. Toh seekor kucing yang terus dikurung malah akan semakin liar. Buat apa memiliki secara fisik, tapi hati dan pikiran mu berkelana entah kemana. Sebab bagiku, mencintai tidak hanya tentang memiliki. Mencintai adalah bagaimana aku bisa bahagia dan kamu bisa bahagia. Dan terakhir prosedur keselamatan adalah menyelamatkan diri sendiri baru orang lain. Jadi aku menganggapnya sama dengan prosedur bahagia. Membahagiakan diri sendiri baru orang lain. Yaah gitu deh..
Komentar