Langsung ke konten utama

Ingin ku akhiri

Aku ingin mengakhiri semuanya. Semuanya tentang kita. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya mengakhiri sesuatu yang tidak pernah kumulai, tidak pernah kamu mulai dan tidak juga kita mulai. Ibaratnya kita masuk ke sebuah ruangan, pastilah kita juga bisa keluar dari ruangan itu. Kalaupun tidak ada pintu keluarnya, setidaknya ada pintu masuk yang jika memang sangat terpaksa bisa kita lalui untuk keluar. Namun masalahnya dengan hubungan kita adalah, kita tidak tahu darimana kita masuk. Tiba-tiba saja kita sudah berada di dalam kisah ini. Menjadi bagian dari cerita masing-masing. Dan tersakiti oleh sikap masing-masing. Takut kehilangan tapi menyadari bahwa tak saling memiliki. Cemburu,  padahal tidak ada kalimat yang terlontar untuk melegalisasi sikap cemburu itu. Merasakan rindu yang amat mendalam, tapi tak memiliki sedikit pun hak untuk merindu. Lalu tiba-tiba merayakan kehilangan saat tahu-tahu seseorang yang lain telah merenggut habis rindu yang selalu kamu lontarkan untukku.

Bagiku kamu adalah petani sedangkan aku hanyalah tanah. Bagi sang tanah, apapun yang ditanam tuannya akan diterima. Meski kadang menyakitkan. Tanah hanya mampu menyuarakan dengan menyampaikan isyarat layunya tanaman, ketika tidak ada kecocokan antara tanah dan tanaman yang ditanam sang tuan. Aku pun begitu. Tidak berhak menentukan rasa apa yang kamu miliki untukku. Jika toh pada akhirnya rasamu padaku tidak sama dengan rasa yang kupunya untukmu, aku bisa apa? Aku tidak menganggapmu sebagai binatang ternak yang bisa ku ikat agar kamu tidak pergi. Toh seekor kucing yang terus dikurung malah akan semakin liar. Buat apa memiliki secara fisik, tapi hati dan pikiran mu berkelana entah kemana. Sebab bagiku, mencintai tidak hanya tentang memiliki. Mencintai adalah bagaimana aku bisa bahagia dan kamu bisa bahagia. Dan terakhir prosedur keselamatan adalah menyelamatkan diri sendiri baru orang lain. Jadi aku menganggapnya sama dengan prosedur bahagia. Membahagiakan diri sendiri baru orang lain. Yaah gitu deh.. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...