Mampukah kekasihmu setangguh aku?
Menunggu tapi tak ditunggi, bertahan tapi tak ditahan
Menunggu tapi tak ditunggi, bertahan tapi tak ditahan
Sampai kapan kau mau begini, menjalani kisah rahasia?
Tak sadarkah di balik senyuman, sungguh ku terluka?
Jika kau tidak bisa pastikan, sudahlah aku mengalah saja
Kau adalah pemenang, walaupun aku juara kedua
Tak sadarkah di balik senyuman, sungguh ku terluka?
Jika kau tidak bisa pastikan, sudahlah aku mengalah saja
Kau adalah pemenang, walaupun aku juara kedua
Juara kedua fiersa Besari sudah menjadi satu-satunya lagu yang kuputar satu bulan terakhir. Selain karena liriknya meyakinkan sekali, rasanya kisah yang kualami bernasib sama dengan lagu itu. Entah siapa yang tersiksa dari kisah ini. Tapi aku merasa sungguh tersakiti dengan keadaan yang membuatku mersakan sakit ini. Salahku memang, memberi ruang pada seseorang yang sudah memiliki kekasih. Tapi bukan salahku ketika aku mulai berharap. Karena sebelum seseorang itu memiliki kekasih, aku lebih dulu datang di kehidupannya daripada kekasihnya. Yaaah kalimat tepatnya sih "pdktnya sama aku jadiannya sama yang lain." Menyesakkan bukan? Tapi bodohnya, aku tak bisa beralih darinya hingga saat ini. Kupikir pura-pura tidak tahu bahwa dia memiliki kekasih akan mempertahankan hubunganku dengannya, memang hubungan kami bertahan. Tapi bagiku dengan bertahannya hubungan ini, ibarat memakan duri yang tersangkut di tenggorokan. Dikeluarkan susah, ditelan juga susah, menyiksa.
"Kamu itu bodoh apa gimana sih La?" Lisya sahabatku, geram sendiri melihat kisah asmaraku yang setidak jelas ini.
"Bodoh gimana?" Bertambah jengkellah temanku yang satu ini.
"Kamu tuh yaa, kamu lupa apa gimana dulu pas kamu pertama kali tau nama kekasih farel? Kamu kan sempat drop gegara berpikir berlebihan. Kamu juga tiba-tiba nangis pas baca nama yang sama dengan kekasih farel di jalan, bahkan kamu berlagak lupa sama temen SMP yang punya nama sama dengan kekasih farel agar kamu nggak sampai drop lagi. Emang kamu sekarang udahu bisa sedamai itu? "
"Gimana ya Lis, aku bukannya udah lupa gitu aja. Tapi kali ini percaya deh aku meet sama farel cuma buat mastiin kok. Mastiin kalau aku udah gak mau jadi htsannya dia, adek-kakakan atau apalah itu namnama sama dia. Yah anggap aja ini pertemuan terakhir atau pertemuan perpisahan."
Ya hari ini aku akan bertemu dengan farel dengan alasan perayaan ulang tahunku yang ke 18.
"Ya udahlah terserah kamu aja. Aku feeling sih dia gak bakal datang."
"Makanya aku minta kamu temenin aku di sini juga sebagai antisipasi" Aku sudah mempersiapkan hatiku untuk menerima kekecewaan jika seandainya farel benar-benar tidak datang. Dan naluriku berkata farel tidak datang.
Drrt... Drrttt... Drrttt
"Lylaaa panggilan masuk tuh dari farel, angkat kek ngelamun aja."
Aku tersadar .
"Halo"
"Sorry nih Lyla, aku gak bisa datang deh. Soalnya ini mamaku lagi minta temenin kondangan. Kamu gimana?"
"Hmmm gataulah rel. Gak jadi juga gak papa."
"Minggu depan aja gimana?"
"Sorry aku gak bisa rel "
"Ya terus gimana?"
"Yaudah gak usah. Gausah Dateng gapapa"
Kupencet tombol merah sebelum farel sempat menyelesaikan kalimat permintaan maafnya yang tak terlihat menyesal itu.
Yah namanya juga berharap sama manusia, harus nyiapin amunisi kecewa lebih banyak daripada berharap ke sang pencipta. Padahal aku tahu akhirnya akan seperti ini, tapi tetap aja aku lakuin. Mengundang farel makan malam di hari ulang tahunku. Ironisnya secara tidak langsung kekecewaan ini adalah kado ulang tahun dari farel untukku di uaia 18 tahun ini.
Dan akhirnya aku memutuskan mengalah walaupun harus menjadi juara kedua, dan membiarkan farel sebagai pemenang atas pertempuran ini. Kuakui aku kalah. Farel tetap juara dihatiku dan di hatinya. Sebagaimana aku membenci orang ketiga, aku membenci diriku sendiri yang sudah memilih kalah dari kisah ini. Biarlah. Biar ku buka lembaran baru tanpa farel me jadi juara untuk kedua kalinya.
Komentar