Langsung ke konten utama

Prosedur keselamatan

Ketika kita naik pesawat, kita akan selalu diingatkan tentang prosedur keselamatan. "Apabila anda akan menyelamatkan orang lain, terlebih dahulu selamatkan diri anda." Kenapa di-postingan sebelum ini kukatakan prosedur bahagia menurutku sama dengan prosedur keselamatan. Ya intinya sama. Ketika kita ingin menyelamatkan orang lain kita harus selamat dulu. Kenapa? Kalau kita selamat kita bisa membantu menyelamatkan beberapa orang setelahnya. Tetapi kalau kita menyelamatkan orang lain terlebih dahulu dan membahayakan diri kita, kemungkinan yang muncul diantaranya adalah
1. Orang yang kita selamatkan merasa berhutang Budi
2. Orang akan merasa menyesal, kenapa tidak bisa menyelamatkan seseorang yang telah menyelamatkannya.
3. Ini kemungkinan terburuk, orang bisa gila karena tidak berhasil menyelamatkan Anda (ini sih kalau seseorang yang kamu tolong adalah tipikal orang yang mudah tersentuh dan pemikir)

Sedangkan prosedur bahagia adalah membahagiakan diri sendiri karena kebahagiaan itu menular. Pernah ikut tertawa saat melihat orang lain tertawa, padahal tidak tau apa yang ditertawakan? Nah jadi seperti itu sederhananya bahagia. Pun kesedihan. Saat kita bersedih, kita membawa beban itu kemana-mana di hati kita. Saat kita tidak ingin menunjukkan kesedihan itu, mata kita tidak pernah bisa menyembunyikan itu. Dan itu adalah penghalang kita membahagiakan orang lain. Ya gitulah pokoknya. Butuh dikaji secara mendalam. Ehehehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...