Langsung ke konten utama
Di suatu sore menuju senja kala itu aku dalam perjalanan menuju tempat dimana mahasiswa menuntut ilmu. Aku yang biasanya kemana-mana menggunakan kendaraan umum, hari itu diperbolehkan membawa kendaraan sendiri berupa motor. Aku tahu dan paham betul bagaimana kondisi motor yang akan kubawa itu, meskipun reyot tapi kupercaya mampu mengantarkanku pada tempat yang kutuju.
Jam sore, tepatnya setelah ashar sekitar pukul setengah empat hingga menjelang Magrib jalanan sedang macet-macetnya. Karena berbarengan dengan orang-orang yang sedang menuju rumah untuk pulang. Motor yang kukendarai melaju dengan kecepatan standard, tidak terlalu pelan dan tidak terlalu cepat. Tiba-tiba diperjalanan ketika aku berada diposisi tengah jalan, motor yang kukendarai mendadak berhenti. Tentu saja aku panik, karena dibelakang ku ada sebuah truk dan kuberi tahu, aku pernah pobhia menyebrang jalan. Jadi kepanikan itu beralasan ya. Setelah aku menemukan kesadaran ku secara penuh, aku segera menepi dan memeriksa motor. Ada apakah gerangan dengan motor tua ini? Kulihat bensinnya masih terisi penuh, kenapa bisa tiba-tiba berhenti? Sudah kucoba dengan menstarternya berulang-ulang, dengan starter tangan juga starter kaki masih tak mau menyala. Kulihat sekeliling, tapi tak kutemukan bengkel terdekat. Akhirnya kudorong saja. Eh belum jauh dari tempat ku menepi, ada orang yang berbaik hati ikut menepi dan menolongku. Kamu tahu? Dengan distarternya sekali saja motor itu langsung menyala. Dan pernyataan apa yang membuatku malu? "Bisa gini mbak." Ooh, mungkin aku yang terlalu panik sampai-sampai tak bertenaga hanya untuk menyalakan mesin motor. Oke, terimakasih ku sampaikan pada mas-mas bermotor dengan nomor polisi w508 sekian, yang telah menolongku. Kukira dizaman yang serba individualis ini sudah tak ada lagi orang yang peduli. Tapi ternyata masih banyak. Semoga kedepannya makin banyak yang memperhatikan nuraninya untuk terus mempertahankan hidup bersosial. Karena sejatinya manusia hidup tidak pernah bisa memenuhi keperluannya seorang diri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...