Langsung ke konten utama

Jadilah Inspirasiku

Entah kali ini purnama yang keberapa. Aku masih saja tak mampu menepis kerinduan ini. Aku masih terbayang bayang akan hadirmu. Aku masih mengenang kebersamaan-kebersamaan yang sebenarnya tidak terlalu sering. Aku rindu tertawa karena mu. Aku rindu menertawakan lelucon ku yang sebenarnya tidak lucu. Darimu aku belajar banyak hal. Belajar bagaimana hidup tanpa keluhan. Dengan cara menertawakan setiap kejadian-kejadian, dari yang memang lucu hingga kejadian yang amat menyedihkan. Aku yang awalnya adalah seorang gadis yang pendiam, pemalu, rendah diri, dan pemurung perlahan mulai mampu mengenali diri sendiri berkat bantuan dirimu. Aku bersyukur karena Allah memberi kesempatan untukku mengenalmu. Darimu aku juga  e belajar bagaimana  e menjadi seseorang yang humoris dan ternyata ini menyenangkan. Aku bahagia sekali pernah mengenalmu meskipun pada akhirnya perpisahan itu selalu ada. Jujur ketika harus berhenti aku merasa kehilangan. Bahkan aku sempat takut, jika kita tak lagi bersama aku akan kembali menjadi pemurung. Tapi aku berusaha untuk selalu mengingat apa saja yang membuatku menjadi diri sendiri dari perkenalan denganmu. Semoga jika Allah menghendaki takdir yang indah untuk kita, Allah akan menyatukan kita dengan cara yang luar biasa indah. Jika pun tidak, semoga kita tetap bahagia atas takdir yang telah ditetapkan. Tetaplah menginspirasi, tetaplah menjadi dirimu yang humoris meski terkadang mengesalkan. Aku di sini hanya mampu berdoa dan meminta ke pada sang pemilik langit dan bumi.

Tetaplah menjadi inspirasi ku. My star

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...