Langsung ke konten utama

Just say thank you

"Terimakasih"
Ingin sekali aku mengucapkan terimakasih kepadamu secara langsung, seandainya kamu tahu. Tapi selalu ada saja yang membuatku enggan setiap kali kata itu hendak kulontarkan. Aku juga sangat ingin membacakan puisi karya Tere Liye yang berjudul tentang kamu. Entah bagaimana ceritanya, puisi itu menggambarkan segala yang kupikirkan tentangmu. Tentang aku yang tidak ingin menyesali sesuatu di antara kita berakhir, namun lebih kepada mensyukuri keadaan. Bersyukur pernah mengenalmu. Maka, jika kamu mendengar desas desus tentang kebencian ku terhadapmu ku harap kamu tidak perlu mempercayai itu. Karena sampai saat ini aku masih mencari cara untuk menyampaikan terimakasih ku tanpa berpikir ribuan kali sebelum kuucapkan. Yeah semoga kamu mengerti. Dan "terimakasih atas kesempatan mengenalmu. Aku tidak akan menyesal karena sesuatu itu berakhir." Tere Liye

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...