Langsung ke konten utama
Sejak aku mampu mengingat dengan baik, entah berapa kali aku pernah terjatuh. Dulu, di suatu sore aku pernah bermain hingga menjelang Magrib. Waktu itu aku masih seorang anak desa yang menyukai petualangan, serta masih tinggal di daerah dengan jalanannya yang masih naik turun. Pergi ke rumah teman yang untuk menuju ke sana melalui jalan yang menanjak. Lalu ketika pulang tergelincir karena berlari berusaha sampai di rumah sebelum adzan Maghrib selesai. Tapi bukannya sampai dengan cepat, malah lambat karena terjatuh. Dan aku masih dengan senang hati bangkit dari jatuhku. 
Kemudian, jatuhku yang masih terkenang adalah terjatuh dari sepeda motor ketika hendak pulang ke rumah dari kota. Aku duduk di jok belakang sepeda motor yang dikendarai oleh kakakku yang nomor dua. Kami hampir saja terjatuh ke dalam jurang, jika saja Allah tidak menyelamatkan kami. Tapi aku masih mampu bangkit dari jatuh ini. Dan, aku pernah jatuhkan yang bahkan membuatku trauma. Tapi aku masih mampu bangkit. Yang kuherankan aku mampu bangkit dari jatuh yang menimbulkan luka hingga berdarah. Tapi kenapa sulit sekali bangkit dari jatuh yang lukanya tidak berdarah, bahkan tidak terlihat. Yaitu jatuh yang jatuhnya ke dalam hati.  jatuh cinta 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...