Langsung ke konten utama

Berjatuhan

Selamat malam wahai bintang,
Apa kabarmu?
Rasanya lama sekali tak menyaksikan kerlipmu.
Apa kabarmu?
Rasanya begitu jauh kau di atas sana.

Wahai bintang,
Pernahkah kau terfikir untuk turun ke bumi?
Iya ke bumi, menemuiku.
Sepertinya tidak, ya?
Sebab cintamu yang teramat besar pada langit.

Wahai bintang,
Tak apa jika kau tak turun.
Ataupun jika kau tak menampakkan diri.
Aku masih akan baik-baik saja.

Dan kini,
Tak perlu kau mencemaskanku
Karena pada dinding kamar aku dapat menyaksikanmu
Yang kini mulai jatuh berguguran,
Sebab aku tak ingin terus menjagamu tanpa kepastian




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...