Langsung ke konten utama

Memulai untuk Mengakhiri atau Mengakhiri untuk Memulai

Bagaimana caramu mempersilahkan seseorang masuk ke rumahmu tanpa kau bukakan pintu, tanpa kau beri celah untuknya? Atau jangan-jangan kau menganggap semua orang adalah jin, yang bisa keluar-masuk tanpa memerlukan pintu? Begitukah? Pantas saja kau begitu mudahnya menjalani sesuatu tanpa memulai, tiba-tiba saja sudah berada diantara sesuatu itu. Jika sesuatu itu ibarat sebuah perlombaan, kau mungkin tidak pernah menginjak garis start.
Dan ketahuilah bahwa apa yang tidak pernah dimulai seharusnya tidak pernah dapat diakhiri. Ya. Jadi, meskipun kau berada di sebuah perlombaan dan hampir memenangkan perlombaan itu, tapi  tanpa menginjak garis start, maka kau juga tak dapat menginjak garis finish seberapa inginnya kau.
Di dunia ini, segala sesuatu tercipta dengan pasangannya. Seperti ada dan tiada. Datang dan pergi. Siang dan Malam. Jika kau berada diantara sesuatu tanpa memulai, maka kau telah menyalahi apa yang diciptakan untuk dunia. Dan itu tidak seharusnya terjadi. Kau tahu, apa yang seharusnya tidak terjadi itu?
Yaitu jatuh cinta sendirian. Bukankah untuk menghasilkan suara tepukan tangan, harus ada dua tangan yang saling bertatap? Seperti itulah maksudku.  Kuharap kau mengerti yang kumaksud.
Sekarang, cobalah untuk memulai sesuatu agar kau dapat mengakhirinya kelak.
Dan percayalah, bahwa mengakhiri bukanlah sesuatu yang menakutkan seperti yang kau pikir selama ini. Karena tanpa mengakhri, kamu tidak akan bisa memulai sesuatu yang baru. Seperti ketika kamu duduk di bangku sekolah dasar, untuk memulai di sekolah menengah maka kamu harus mengakhiri sekolah dasarmu dengan benar.
Jadi, sekali lagi kutegaskan padamu, cobalah untuk memulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...