Langsung ke konten utama

Tentang Temanku 1

Namanya Ainiyah, biasa dipanggil Aini. lahir di pulau Madura, tepatnya di kota Pamekasan pada 21 tahun yang lalu. dulu, pertama kali mengenalnya aku menganggap bahwa ia adalah sosok yang perkasa. karena di tempat kami berdua pernah tinggal bersama adalah asrama khusus perempuan. yang apa-apa harus bisa kami kerjakan sendiri, kecuali beberapa hal yang memang dikerjakan oleh laki-laki. waktu itu, ku dapati ia mengangkat galon dengan gagah perkasa. sampai-sampai aku sempat berfikir bahwa dia adalah seorang laki-laki yang menyamar dengan mengenakan pakaian perempuan serta kerudung untuk dapat tinggal di asrama ini, tapi ternyata dia benar-benar perempuan. hingga suatu ketika ia terpeleset di depan kamar mandi yang licin karena lupa dibersihkan oleh petugas piket terjadwal. ia mengalami keretakan di bagian tangan kirinya.
usut punya usut ternya tangan kirinya itu juga pernah retak ketika ia masih usia sd. usia-usia sd adalah usia yang penuh dengan rasa ingin tahu, aini tak terkecuali. dia berusaha melihat sapi dalam kandang yang akan dipasangi tongar. tongar adalah sebutan di madura untuk tali yang dipasangkan di hidung sapi. karena dia kecil dan tidak sampai untuk melihat sapi itu, ia memanjat dinding kandang. namanya sapi yang akan dipasangi tali, pasti banyak tingkahnya, tiba-tiba aini si gagah perkasa merasa takut, dia berusaha cepat-cepat turun dari kandang sapi. namun, karena terburu-buru ia tidak sadar bahwa roknya tersangkut kayu yang digunakan sebagai dinding kandang sapi, naasnya ketika jatuh tangan kirinya terbentur batu. itulah kali pertama dan kali kedua terjadinya kecelakaan aini yang menyebabkan tangan kirinya retak. 
kecelakaan yang menyebabkan tangan kiri aini kembali retak adalah ketika ia bertanding memperebutkan kejuaraan tingkat kabupaten mewakili Sekolah sebagai pesilat dari Tapak Suci. setelah kecelakaan ketiga ini, aini tidak segagah perkasa pasca kecelakaan pertamanya. meskipun begitu, aku tetap menganggapnya gagah perkasa. karena dia adalah seorang pesilat dan aku suka berguru kepadanya. 
kami pertama kali bertemu di asrama perempuan ini sama-sama sebagai siswa smp kelas 1. tahu kan, bahwa anak smp masih membawa sifat kekanakannya ketika sd? nah kamipun sama. dengan penuh drama yang entah kami pelajari dari mana, kami menulis ikrar persahabatan di buku diary masing-masing. isinya tidak lain tidak bukan adalah tentang berbagi suka dan duka, karena meskipun rasanya seperti kekanakan, ikrar itu masih kita ingat sampai saat ini. yaah meskipun tidak kami ingat setiap katanya. tapi jika mengingat tentang hal-hal semacam itu akan membuat kita mengenang, dan dapat kita rasakan bahwa mengenang tidak selalu tentang kesedihan. 
Aini adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara. dan saat ini hanya dia satu-satunya yang belum menikah. tentu saja adiknya menikah dahulu, karena dia anak ke lima, bukan anak terakhir. alasan dia belum menikah sih bukan karena belum ada yang melamar, tapi entah apa alasan sebenarnya. setahuku sih, dia emang suka pilih-pilih. haha (ssstt... jangan bilang-bilang ya!, kalau aku bilang dia pilih-pilih). habis banyak yang melamar tapi ditolak semua. mungkin nungguin aku kali yaa, hehehe.
hmmm.. tapi dia tidak menungguku. yaiyalah kan jodohku masih belum kelihatan (kok aku jadi curcol yaa?)
dia tahun ini insya Allah menikah. doain aja semoga lancar dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. aamiin. udah ah ceritanya. aku jadi sedih bakal ditinggal nikah sama sahabat aku. besok-besok kalau aku sakit panas nggak ada yang ngompres aku lagi, nggak ada yang menyiapkan makanan buat aku pas lagi sakit. huhuhu sedih deh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...