Langsung ke konten utama
pernah merasa lelah untuk mengalah? tapi ketika kita lelah mengalah, siapa yang akan mengalah jika bukan kita? bukankah ego hanya akan menghancurkan segalanya? bukankah kemarahan akan menghancurkan persahabatan, persaudaraan dan ikatan lainnya yang sebelumnya menyenangkan? hidup itu selalu berdampingan antara dua sisi. hitam putih, gelap terang, ada tiada, pun kalah dan menang. kita mungkin bisa saja melampiaskan segala kelelahan kita atas sesuatu. kita bisa saja marah, kita boleh saja kecewa. tapi apakah semuanya akan selesai dengan pelampiasan? apakah akan selesai dengan kemarahan? pun belum tentu dapat diselesaikan dengan kekecewaan.
kita hidup mengalami kecewa merupakan hal yang wajar. karena bukan kita yang menentukan takdir setiap orang, pun diri kita. dengan kecewa, kita akan lebih menghargai banyak hal. kita mungkin marah dengan kekecawaan, tapi percayalah bahwa kadang apa yang membuat kita kecewa adalah sesuatu yang dapat kita ambil manfaatnya. kita mungkin kecewa, tapi percayalah bahwa kecewa suatu saat akan membantu kita belajar lebih mampu mengendalikan diri juga hati.
mungkin kita merasa kesal ketika kita merasa telah mengusahakan sesuatu dengan maksimal, namun hasilnya tidak memuaskan. kembali lagi, bahwa kita tidak menentukan takdir kita sendiri. dengan demikian, kita akan mengingat bahwa takdir kita telah ditentukan oleh sang pemilik kehidupan. untuk mengatasi kekecewaan tersebut, hendaknya kita mampu menyerahkan setiap permasalahan yang kita hadapi kepada pemilik tadir, namun bukan berarti pasrah tanpa usaha.


#selamatpagi
semoga harimu menyenangkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...