Langsung ke konten utama

Merelakan


Aku tahu,
Aku tahu, tidak ada perpisahan
Tanpa menggoreskan kesedihan
Tidak ada kata pulang
Tanpa diiringi kepergian

Malam ini menjadi saksi
Perpisahan kita hanya terhalang helaian benang
Yang sebentar lagi akan terputus
Kuharap persaudaraan kita tak pernah putus

Malam ini puluhan mata menjadi saksi
Bahwa hidup bukan sekedar perjumpaan
Melainkan didalamnya ada perpisahan
Tak hanya tawa, tapi juga air mata
Yang mengiringi setiap jengkal kenangan

Bukan hanya merelakan kepergianmu
Tapi juga membiarkan sepotong hati ini ikut bersamamu
Bahkan yang sebelumnya tak kurelakan untuk siapapun,
Malam ini kubiarkan ia ikut bersamamu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani singkong

Gerimis membasahi tanah yang kemudian menimbulkan aroma segar khas hujan pertama jatuh. Segar sekali. Kesegarannya membuatku ingin lama-lama menghirup aroma itu. Ditambah aroma pohon Pinus itu. Konon katanya, menghirup aroma pohon pinus dapat meredakan sakit flu. Entah benar atau salah, tapi yang jelas aroma Pohon Pinus ini membuatku merasa kehilangan beban, membuatku merasa bernafas lega setelah lama menahannya. Membuat pikiranku berkelana ke masa itu, masa-masa sebelum udara kota metropolitan memenuhi organ pernapasanku. Dulu, aku pernah dilatih menjadi seorang petani kecil. Dari hutan yang disediakan oleh pemerintah bapak dan mamak menanam singkong dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya. Setiap musim panen singkong tiba dan hari libur sekolah aku selalu diajak untuk memanen singkong. Waktu itu harga singkong Rp.500/kg. Setiap kali aku mulai malas ketika diajak ke hutan, mamak selalu memberi semangat. "Nanti hasil penjualan singkong yang kamu gendong sendiri, boleh buat kamu ...